Minggu, 18 November 2012

Askep Traksi


   ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN TRAKSI



DI SUSUN OLEH :
NAMA : FRANKY RUMNGEVUR
NIM   : 010 01 123
PRODI : S1 KEPERAWATAN


S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AMANAH
MAKASSAR 2012
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan RidhoNya kepada kami sehinggah kami dapat menyelesaikan tugas  SISTEM MOSKULOSKLETAL dengan judul “asuhan keperawatan pada pasien dengan traksi” yang di berikan oleh dosen yang bertanggung jawab terhadap mata kuliah ini sesuai dengan waktu yang telah di tentukan.
Kami menyadari bahwa isi dalam tugas ini masih jauh dari kesempurnaan,oleh karena itu,segala saran baik masukan maupun kritikan sangat kami harapkan. apabila saran, masukan dan kritikan tersebut sifatnya dapat membangun dan sekaligus dapat melengkapi segalah kekurangan yang ada pada tugas ini.
Dalam penyusunan tugas ini kami mendapat kendala dalam hal pencarian data-data yang berhubungan dengan judul materi ini, namun masalah tersebut dapat di atasi dengan baik, dengan adanya buku-buku dan media-media yang memuat judul tugas ini sehingga kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada buku-buku dan media-media yang memuat judul tugas ini.




                                                               Makassar,10 Oktober 2012
                                      
                                                                                                   Penulis


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR       ……………………………………………………………
DAFTAR ISI                    ……………………………………………………………
BAB I PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang              …………………………………………………………….
B.      Tujuan                            …………………………………………………………….
C.      Rumusan masalah         …………………………………………………………….
D.     Metode penulisan         …………………………………………………………….
BAB II LAPORAN PENDAHULUAN
A.      Defenisi traksi                         ……………………………………………………
B.      Tujuan pemasangan traksi      ……………………………………………………
C.      Jenis – jenis traksi                   ……………………………………………………
D.     Prinsip – prinsip traksi efektif ……………………………………………………
E.      Komplikasi dan pencegahan   ……………………………………………………
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
A.      Pengkajian keperawatan          …………………………………………………
B.      Diagnose Keperawatan             …………………………………………………
C.      Intervensi                                   …………………………………………………
D.     Evaluasi                                     …………………………………………………
BAB IV PENUTUP
A.      Kesimpulan                                …………………………………………………
B.      Saran                                         …………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Beberapa tulang, femur mempunyai kekuatan otot yang kuat sehingga reposisi tidak dapat di lakukan sekaligus. Traksi adalah pemasangan gaya tarikan kebagian tubuh. Traksi di gunakan untuk meminimalkan spasme otot, untuk mereduksi, menyejajarkan, mengimobilisasi fraktur, mengurangi deformitas, dan untuk menambah ruangan di antara kedua permukaan patahan tulang. Untuk itu, traksi di perlukan untuk reposisi dan imobilisasi patah tulang panjang. Traksi di gunakan untuk menahan kerangka pada posisi sebenarnya, penyembuhan, mengurangi nyeri, mengurangi kelainan bentuk atau perubahan bentuk. Penanganan nyeri dan pencegahan komplikasi adalah dua kunci tugas perawat dalam perawatan traksi.

Komplikasi yang terjadi berhubungan dengan pengunaan traksi dan pembatasan gerak, jika klien obesitas, cachetic, tua, anak muda, diabetes, dan perokok (Altman, 1999). Kadang traksi harus di pasang dengan arah yang lebih dari satu untuk mendapatkan garis tarikan yang di inginkan. Indikasi traksi adalah pasien fraktur dan atau dislokasi. Bila otot dan jaringan lunak sudah rileks, berat yang di gunakan harus diganti untuk memperoleh gaya tarikan yang di inginkan. Penjelasan lebih lanjut mengenai asuhan keperawatan pada klien traksi akan di bahas dalam makalah ini.

B.      Tujuan makalah ini di susun bertujuan untuk
1.      Memahami konsep dasar, pemasangan traksi.
2.      Memahami dan mengaplikasikan asuhan keperawatan dengan traksi.
3.      Memenuhi salah satu tugas mata kuliah “system musculoskeletal”
C.      Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah yang akan di bahas dalam makalah ini, meliputi:
1.      Konsep dasar traksi, terdiri dari defenisi, tujuan, jenis – jenis traksi, prinsip – prinsip traksi efektif, komplikasi dan pencegahannya.
2.      Asuhan keperawatan pada klien dengan traksi, terdiri dari pengkajian keperawatan, diagnose keperawatan, intervensi dan evaluasi.

D.      Metode penulisan
Makalah ini ditulis dengan menggunakan metode penulisan literature, dan browsing dengan berbagai sumber buku dan website yang menjelaskan mengenai traksi yang ada.


















BAB II
LAPORAN PENDAHULUAN

A.     Defenisi traksi
Traksi adalah pemasangan gaya tarikan ke bagia tubuh. Traksi digunakan untuk meminimalkan spasme otot, untuk mereduksi, menyejajarkan, mengimobilisasi fraktur, mengurangi deformitas, dan untuk menambah ruangan diantara kedua permukaan patahan tulang. Untuk itu, traksi diperlukan untuk reposisi dan imobilisasi pada tulang panjang.

B.      Tujuan pemasangan traksi
Tujuan dari traksi adalah untuk menangani fraktur, dislokasi atau spasme otot dalam usaha untuk memperbaiki deformitas dan mempercepat penyembuhan, untuk menjaga mereka imobilisasi sedang mereka bersatu.

C.      Jenis – jenis traksi
1.      Traksi skeletas adalah traksi yang digunakan untuk meluruskan tulang yang cedera dan sendi panjang untuk mempertahankan traksi, memutuskan pins (kawat) ke dalam. Traksi ini menunjukkan tahanan dorongan yang di aplikasikan langsung ke skeleton melalui pins, wire atau buat yang telah dimasukkan kedalam tulang (Taylor, 1987;Styrcula, 1994a dan Osmond, 1999). Untuk melakukan ini berat yang besar dapat digunakan. Traksi skeletal digunakan untuk fraktur yang tidak stabil, untuk mengontrol rotasi dimana berat lebih besar dari 25 kg dibutuhkan dan fraktur membutuhkan traksi jangka panjang  (Styrcula, 1994a and Osmond, 1999).
2.      Traksi kulit (skin traksi) adalah menarik bagian tulang yang fraktur dengan menempelkan plaster langsung pada kulit untuk mempertahankan bentuk, membantu menimbulkan spasme otot pada bagian yang cedera dan biasanya digunakan untuk jangka pendek  (48 -72 jam). Traksi kulit menunjukkan dimana dorongan tahanan diaplikasikan kepada bagian tubuh yang terkena melalui jaringan 7 lunak (Taylor, 1987; Styrcula, 1994a and Osmond, 1999). Hal ini biasa dilakukan dalam cara yang bervariasi : ekstensi adhesive dan nonadhesive kulit, splint, sling, sling pelvis, dan halter cervical (Taylor,1987; Styrcula, 1994a and Osmond, 1999). Di karenakan traksi kulit di aplikasikan ke kulit kurang aman, batasi kekuatan tahanan traksi. Dengan kata lain sejumlah berat dapat digunakan (Taylor, 1987;Styrcula, 1994a and Osmond, 1999). Berat harus tidak melebihi (3-4kg) (Taylor, 1987; Osmond, 1999 dan Redemann, 2002). Traksi kulit digunakan untuk periode yang pendek dan lebih sering manajemen temporer fraktur femur dan dislokasi serta untuk mengurangi spasme otot dan nyeri sebelum pembedahan (Taylor,1987; Styrcula, 1994a and Dave, 1995).
3.      Traksi manual merupakan lanjutan dari traksi, kekuatan lanjutan dapat di berikan secara langsung pada tulang dengan kawat atau pins. Traksi ini menujukkan tahanan dorongan yang diaplikasikan terhadap seseorang di bagian tubuh yang terkena melalui tangan mereka. Dorongan ini harus constant. Traksi manual di gunakan untuk mengurangi fraktur sederhana sebelum aplikasi plester atau selama pembedahan. Hal ini juga digunakan selama pemasangan traksi dan jika ada kebutuhan secara temporal melepaskan berat traksi (Taylor,1987; Styrcula, 1994a and Osmond, 1999).

D.      Prinsip – prinsip traksi efektif
Pemasangan traksi menimbulkan adanya kontra traksi (gaya yang bekerja dengan arah yang berlawan). Umumnya berat badan klien dan pengaturan posisi tempat tidur mampu memberikan kontra traksi. Kontra traksi harus di pertahankan agar traksi tetap efektif. Traksi harus berkesinambungan agar reduksi dan imobilisasi fraktur efektif. Traksi kulit pelvis dan serviks sering di gunakan untuk mengurangi spasme otot dan biasanya di berikan sebagai traksi intermitten.

Prinsip traksi efektif adalah sebagai berikut :
1.      Traksi skelet tidak boleh putus.
2.      Beban tidak boleh di ambil kecuali bila traksi di maksudkan intermitten.
3.      Tubuh klien harus dalam keadaan sejajar dengan pusat tempat tidur ketika traksi di pasang.
4.      Tali tidak boleh macet.
5.      Beban harus tergantung bebas dan tidak boleh terletak pada tempat tidur atau lantai.
6.      Simpul pada tali atau telapak kaki tidak boleh menyentuh katrol atau kaki tempat tidur.

E.      Komplikasi dan pencegahan
Pencegahan dan penatalaksanaan komplikasi yang timbul pada klien yang terpasang traksi adalah sebagai berikut :
1.      Dekubitus, pencegahannya
1)      Periksa kulit dari adanya tanda tekanan dan lecet, kemudian berikan intervensi awal untuk mengurangi tekanan.
2)      Perubahan posisi dengan sering dan memakai alat pelindung kulit (misalnya pelindung siku) sangat membantu perubaha posisi.
3)      Konsultasikan pengunaan tempat tidur khusu untuk mencegah kerusakan kulit.
4)      Bila  sudah ada ulkus akibat tekanan, perawat harus konsultasi dengan dokter atau ahli terapi enterostomal, mengenai penanganannya.
2.      Kongesti paru pneumonia, pencegahannya
1)      Auskultasi paru untuk mengetahui status pernapasan klien.
2)      Ajarkan klien untuk napas dalam dan batuk efektif.
3)      Konsultasikan dengan dokter mengenai pengunaan terapi khusus, misalnya spirometri insentif, bila riwayat klien dan data dasar menunjukkan klien beresiko tinggi mengalami komplikasi pernapasan.
4)      Bila telah terjadi masalah pernapasan, perlu di berikan terapi sesuai indikasi.
3.      Konstipasi dan anoreksia, pencegahannya
1)      Diet tinggi serat dan tinggi cairan dapat membantu merangsang motilitas gaster.
2)      Bila telah terjadi konstipasi, konsultasikan dengan dokter mengenai pelunak tinja, laksatif, supposituria, dan enema.
3)      Kaji dan catat makanan yang di sukai klien dan masukkan dalam program diet sesuai kebutuhan.
4.      Stasis dan infeksi saluran kemih, pencegahannya
1)      Pantau masukkan dan keluaran berkemih.
2)      Anjurkan dan ajarkan klien untuk minum dalam jumlah yang cukup,  dan berkemih setiap 2 – 3 jam sekali.
3)      Bila tampak tanda dan gejala terjadi infeksi saluran kemih, konsultasikan dengan dokter untuk menanganinya.
5.      Thrombosis vena profunda, pencegahannya
1)      Ajarkan klien untuk latihan tumit dan kaki dalam batas traksi.
2)      Dorong untuk minum yang banyak untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi yang menyertainya, yang akan menyebabkan stasis.
3)      Pantau klien dari adanya tanda – tanda thrombosis vena dalam dan melaporkannya ke dokter untuk menentukan evaluasi dan terapi.



BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A.     Pengkajian keperawatan
Yang perlu di kaji pada klien dengan traksi, yaitu :
·         Dampak psikologik dan fisilogik masalah moskuloskeletal dengan terpasang traksi.
·         Adanya tanda – tanda disorientasi, kebigungan, dan masalah perilaku klien akibat terkungkung pada tempat terbatas dalam waktu yang cukup lama.
·         Tingkat ansietas klien dan respon psikologi terhadapa traksi.
·         Status neurovaskuler, meliputi suhu, warna, dan pengisian kapiler.
·         Integritas kulit.
·         System intugumen perlu di kaji adanya ulkus akibat tekanan, dekubitus.
·         System respirasi perlu di kaji adanya kongesti paru, stasis pneumonia.
·         System gastrointestinal perlu di kaji adanya konstipasi, kehilangan nafsu makan (anoreksia).
·         System perkemihan perlu di kaji adanya stasis kemih, dan ISK.
·         System kardiovaskuler perlu di kaji adanya perubahan dan gangguan pada kardiovaskuler.
·         Adanya nyeri tekan betis, hangat, kemerahan, bengkak, atau tanda homa positif (tidak nyaman ketika kaki didorsofleksi dengan kuat) mengarahkan adanya thrombosis vena dalam.
Sedangkan pengkajian secara umum pada pasien traksi, meliputi :
1.      Status neurology.
2.      Kulit (dekubitus, kerusakan jaringan kulit).
3.      Fungsi respirasi (frekuensi, regular/ irregular).
4.      Fungsi gastroinstetinal (konstipasi, dullness).
5.      Fungsi perkemihan (retensi urin, ISK).
6.      Fungsi kardiovaskuler (nadi, tekanan darah, perfusi ke daerah traksi, akral dingin).
7.      Status nutrisi (anoreksia).
8.      Nyeri.

B.      Diagnosa keperawatan
Diagnose keperawatan yang mungkin muncul :
1.      Kurang pengetahuan mengenai program terapi.
2.      Ansietas berhubungan dengan status kesehatan dan alat traksi.
3.      Nyeri berhubungan dengan traksi dan imobilisasi.
4.      Kurang perawatan diri (makan, hygiene, atau toileting) berhubungan dengan traksi.
5.      Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan proses penyakit dan traksi.
6.      Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pertahanan primer tidak efektif, pembedahan.
C.      Intervensi keperawatan
1.      Dx. Keperawatan : kurang pengetahuan mengenai program terapi.
Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 4 x 24 jam, diharapkan pengetahuan klien mengenai program terapi bertambah.
kriteria hasil : klien mengerti dengan program terapi, klien menunjukan pemahaman terhadap program terapi (menjelaskan tujuan traksi, berpartisipasi dalam rencana perawatan.
Intervensi :
1.      Diskusikan masalah patologik. R/ membantu perencanaan dasar.
2.      Jelaskan alasan pemberian terapi traksi. R/ Agar klien mengetahui tujuan pemasanngan traksi.
3.      Ulangi dan berikan informasi sesering mungkin. R/ membuat pasien lebih koperatif.
4.      Dorong partisipasi aktif klien dalam perawatan. R/ membantu dalam proses kemandirian pasien.
2.      Dx. Keperawatan : Ansientas berhubungan dengan status kesehatan dan alat traksi.
Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 4 x 24 jam, diharapkan klien menunjukan penurunan ansietas.
Kriteria hasil : klien berpartispasi aktif dalam perawatan, mengekspresikan perasaan dengan aktif.
Intervensi :
1.      Jelaskan prosedur, tujuan, implikasi pemasangan traksi. R/ membantu klien untuk mengerti mengenai regimen terapi.
2.      Diskusikan bersama klien tentang apa yang dikerjakan dan mengapa perlu dilakukan. R/ membantu klien untuk mengerti mengenai regimen terapi.
3.      Lakukan kunjungan yang sering setelah pemasangan traksi. R/ memantau keadaan klien setelah dilakukan pemasangan traksi.
4.      Doronng klien mengekspresikan perasaan dan dengarkan dengan aktif. R/ membantu mengkaji tingkat ansietas klien.
5.      Anjurkan keluarga dan kerabat untuk sering berkunjung. R/ support dan dukungan akan mengurangi ansietas yang dialami klien.
6.      Berikan aktivitas pengalih. R/ mengurangi ansietas klien selama program terapi.
3.      Dx. Keperawatan : nyeri berhubungan dengan traksi dan imobilasasi.
Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 4 x 24 jam, diharapkan klien menyebutkan peningkatan kenyamanan.
Kriteria hasil : klien mampu mengubah posisi sendiri sesering mungkin sesuai kemampuan traksi, klien dapat beristirahat tenang.
Intervensi :
1.      Berikan penyangga berupa papan pada tempat tidur dari kasur yang padat. R/ membantu posisi klien lebih nyaman.
2.      Gunakan bantalan kasur khusus. R/ meminimalkan terjadi ulkus.
3.      Miringkan dan rubah posisi klien dalam batas – batas traksi. R/ membantu dalam sirkulasi ke area traksi.
4.      Bebaskan linen tempat tidur dari lipatan dan kelembaban. R/ membantu mencegah terjadi nya dekubitus.
5.      Observasi setiap keluhan klien. R/ membantu dalam mengidentifikasikan terjadinya gangguan komplikasi dan rencana perawatan selanjutnya.
4.      Dx. Keperawatan : kurang perawatan diri (makan, hygiene, atau toileting) berhubungan dengan traksi.
Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 4 x 24 jam, klien mampu melakukan perawatan diri.
Kriteria hasil : klien hanya memerlukan sedikit bantuan pada saat makan, mandi, berpakaian, dan toileting.
Intervensi :
1.      Bantu klien memenuhi kebutuhannya sehari – hari, seperti makan, mandi, dan berpakaian. R/ membantu klien dalam ADL.
2.      Dekatkan alat bantu disamping klien. R/ memudahkan klien untuk memenuhi perawatan dirinya secara mandiri.
3.      Tingkatkan rutinitas. R/ memaksimalkan kemandirian klien.
5.      Dx. Keperawatan : gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan proses penyakit dan traksi.
Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 4 x 24 jam, diharapkan klien menunjukkan mobilitas yang meningkat.
Kriteria hasil : klien melakukan latihan yang di anjurkan. Menggunakan alat bantu yang aman.
Intervensi :
1.      Dorong klien untuk melakukan latihan otot dan sendi yang tidak diimobilisasi. R/ mencegah terjadinya kaku otot dan sendi.
2.      Anjurkan klien untuk mengerakkan secara aktif semua sendi. R/ mencegah terjadinya kaku otot dan sendi.
3.      Konsultasikan dengan ahli fisioterapi. R/ membantu dalam menentukkan program terapi selanjutnya.
4.      Pertahankan gaya tarikan dan posisi yang benar. R/ menghindari komplikasi akibat ketidaksejajaran.
6.      Dx. Keperawatan : resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pertahanan primer tidak efektif, pembedahan.
Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 4 x 24 jam, diharapkan tidak terjadi integritas kulit.
Kriteria hasil : tidak ditemukan adanya dekubitus dan nyeri tekan.
Intervensi :
1.      Periksa kulit dari adanya tanda tekanan dan lecet. R/ membantu dalam pemberian intervensi awal untuk mengurangi tekanan.
2.      Rubah posisi dengan sering dan memakai alat pelindung kulit (misalnya pelindung siku). R/ mencegah terjadinya luka tekan dan sangat membantu perubahan posisi.
3.      Konsultasikan penggunaan tempat tidur khusus. R/ mencegah kerusakan kulit.
4.      Bila sudah ada ulkus akibat tekanan, perawat harus konsultasi dengan dokter atau ahli terapi enterostomal, mengenai penangananya. R/ membantu dalam intervensi dan penatalaksanaan lebih lanjut.

D.     Evaluasi
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan dapat tercapai tujuan dan kriteria hasil.
1.      Klien mengerti dengan program terapi, klien menunjukkan pemahaman terhadap program terapi (menjelaskan tujuan traksi, berpartisipasi dalam rencana perawatan.
2.      Klien berpartisipasi aktif dalam perawatan, mengekspresikan perasaan dengan aktif, dan tingkat ansietas klien menurun.
3.      Nyeri berkurang, klien mampu mengubah posisi sendiri sesering mungkin sesuai kemampuan traksi, klien dapat beristirahat nyenyak.
4.      Klien memerlukan sedikit bantuan pada saat makan, mandi, berpakaian dan toileting.
5.      Mobilitas klien meningkat, klien melakukan latihan yang dianjurkan, menggunakan alat bantu yang aman.
6.      Tidak ditemukan adanya dekubitus dan nyeri tekan. Kulit tetap utuh, atau tidak terjadi luka tekan lebih luas. 


















BAB IV PENUTUP
A.     Kesimpulan
Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk menangani kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot. Tujuan dari traksi adalah untuk menangani fraktur, dislokasi atau spasme otot dalam usaha untuk memperbaiki deformitas dan mempercepat penyembuhan. Ada dua tipe utama traksi : traksi skeletal dan traksi kulit, dimaa didalam nya terdapat sejumlah penanganan. Prinsip traksi adalah menarik tahanan yang diaplikasikan pada bagia tubuh, tungkai, pelvis atau tulang belakang dan menarik tahanan yang diaplikasikan pada arah yang berlawanan yang disebut dengan counter traksi.
B.       Saran
Diharapkan setelah mempelajari konsep dasar dan asuhan keperawatan traksi, mahasiswa/mahasiswi keperawatan dapat mengaplikasikan kedalam tindakan secara baik dan benar.
















DAFTAR PUSTAKA
Lukman, Ningsih, Nurna. 2011. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan System Moskuloskeletal. Jakarta : Salemba Medika.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar